
SpesialEkonomi,- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tajam pada awal perdagangan Senin (2/2/2026), dengan penurunan mencapai 4,37 persen hanya dalam beberapa menit setelah pasar dibuka. Kondisi ini membuat ratusan saham langsung masuk zona merah dan menciptakan suasana panic selling di lantai bursa.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi 363,76 poin ke posisi 7.965,85. Pelemahan terjadi sejak awal sesi dan nyaris tanpa perlawanan berarti dari sisi pembeli. Tekanan jual yang agresif membuat indeks bergerak cepat meninggalkan level pembukaan.
IHSG dibuka di posisi 8.306,16, bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.313,06. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Arus jual yang semakin deras menyeret indeks turun hingga mencapai level terendah harian di 7.904,17, sebelum akhirnya sedikit menahan pelemahan di kisaran 7.900-an.
Ratusan Saham Rontok Bersamaan
Pelemahan IHSG tercermin jelas dari pergerakan saham di seluruh papan perdagangan. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 602 saham tercatat melemah, atau sering disebut pelaku pasar sebagai saham yang “terbakar”. Sementara itu, hanya 63 saham yang mampu menguat, dan 48 saham stagnan tanpa perubahan harga.
Komposisi ini menunjukkan dominasi penuh tekanan jual, di mana hampir seluruh sektor dan kapitalisasi saham mengalami koreksi. Minimnya saham penguat juga menandakan rendahnya minat beli investor di tengah sentimen negatif yang membayangi pasar.
Situasi tersebut memperkuat indikasi bahwa penurunan IHSG bukan sekadar koreksi teknikal jangka pendek, melainkan cerminan kekhawatiran pelaku pasar yang lebih luas terhadap kondisi dan prospek pasar saham domestik.
Aktivitas Transaksi Tetap Tinggi
Menariknya, meski IHSG jatuh tajam, aktivitas perdagangan tetap berlangsung tinggi. Volume transaksi tercatat mencapai 15,61 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 8,73 triliun. Adapun frekuensi transaksi menyentuh 900.312 kali, mencerminkan tingginya aktivitas jual-beli di tengah volatilitas ekstrem.
Tingginya volume dan nilai transaksi ini mengindikasikan bahwa pelemahan pasar disertai aksi lepas saham secara besar-besaran, baik oleh investor ritel maupun institusi. Kondisi ini kerap terjadi saat pasar berada dalam fase ketidakpastian, di mana pelaku pasar cenderung memilih mengamankan posisi dibanding menambah eksposur risiko.
Kapitalisasi Pasar Ikut Tergerus
Dampak dari amblasnya IHSG juga langsung terasa pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia. Nilai kapitalisasi tercatat menyusut menjadi sekitar Rp 14.351 triliun, seiring dengan anjloknya harga saham secara luas.
Penurunan kapitalisasi pasar ini mencerminkan berkurangnya nilai aset yang tercatat di BEI dan menjadi indikator penting bagi investor dalam menilai kesehatan pasar secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas berpotensi tetap tinggi hingga muncul sentimen positif yang mampu menahan tekanan jual.
Tekanan Jelang Agenda Penting
Pelemahan tajam IHSG terjadi menjelang agenda pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI, yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama investor global dalam menentukan alokasi dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski belum ada pernyataan resmi yang memicu penurunan secara langsung, pelaku pasar cenderung bersikap waspada terhadap potensi perubahan persepsi investor asing terhadap pasar saham Indonesia. Dalam banyak kasus, sentimen global dan ekspektasi terhadap kebijakan atau evaluasi lembaga internasional kerap menjadi pemicu volatilitas jangka pendek.
Minimnya Perlawanan dari Sisi Pembeli
Salah satu ciri utama perdagangan hari ini adalah minimnya aksi beli yang mampu menahan penurunan indeks. Sejak pembukaan, tekanan jual terus mendominasi pergerakan IHSG, membuat upaya rebound berlangsung sangat terbatas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar investor memilih bersikap defensif, menunggu kejelasan arah pasar sebelum kembali masuk. Sikap wait and see ini umum terjadi saat indeks mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat.
Pasar Masih Rentan Volatilitas
Dengan koreksi tajam yang terjadi sejak awal perdagangan, pasar saham Indonesia dinilai masih berada dalam fase rentan volatilitas. Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.
Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati faktor-faktor fundamental, menjaga manajemen risiko, serta tidak mengambil keputusan secara emosional di tengah fluktuasi pasar yang ekstrem. Dalam jangka pendek, pergerakan indeks diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika sentimen dan respons investor terhadap perkembangan terbaru di pasar keuangan.