
Kronologi Singkat Kejadian
- Pada Senin sore tanggal 8 Desember 2025, hujan deras mengguyur kawasan perbukitan di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hujan berlangsung sekitar dua jam.
- Setelah hujan mereda, muncul aliran air deras dari sejumlah titik di lereng bukit — padahal bukit-bukit tersebut menurut warga dan pengamat lingkungan tidak memiliki jalur sungai permanen.
- Dalam sekejap, bukit-bukit itu seakan “menangis”, menghasilkan air terjun dadakan dari lereng — demikian warga menamainya. Video fenomena ini menyebar di media sosial dan cepat viral.
Reaksi Warga dan Kekhawatiran terhadap Bencana
- Munculnya air terjun dadakan ini memicu kepanikan di kalangan warga Sembalun. Sebab, peristiwa ini mengingatkan trauma masa lalu saat terjadi banjir besar yang sempat menyebabkan korban jiwa dan kerusakan pada rumah serta persawahan warga di pinggiran sungai.
- Menurut Ketua Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup Sembapala Sembalun, Rijalul Fikri, fenomena ini bukan sepenuhnya baru; air terjun dadakan sempat muncul kala hujan deras di masa lalu. Namun, kali ini alirannya jauh lebih deras dan melibatkan banyak titik lereng.
- Akibat aliran air dari bukit, sungai-sungai di kawasan itu meluap dan menyebabkan sawah warga terendam — tercatat sekitar tiga hektare persawahan terdampak.
Faktor yang Diduga Memicu Fenomena: Hujan & Alih Fungsi Lahan
- Meskipun hujan deras menjadi pemicu langsung, banyak pihak menduga ada faktor struktural yang memperparah: alih fungsi lahan di perbukitan — untuk pembangunan vila maupun perkebunan — memengaruhi daya resap tanah dan struktur lereng.
- Pembangunan vila dan fasilitas wisata di kawasan perbukitan oleh warga maupun investor dalam beberapa bulan terakhir membuat warga resah. Mereka takut pengembangan tanpa regulasi dan mitigasi lingkungan dapat memicu bencana saat musim hujan.
- Rijalul Fikri menyebut bahwa kombinasi antara intensitas hujan yang tinggi dan perubahan fungsi lahan telah merusak keseimbangan alam — sehingga lereng yang dulunya mampu menahan air sekarang justru jadi jalur aliran deras tak terduga.
Sebelumnya dan Perbandingan dengan Kejadian Terkini
- Menurut keterangan warga dan komunitas lingkungan, air terjun dadakan di Sembalun sudah pernah muncul berulang kali di masa lalu ketika hujan deras. Namun, kejadian kali ini dianggap paling masif — baik dari jumlah titik aliran maupun debit air— sehingga mendapat sebutan “paling ekstrem”.
- Perbedaan signifikan dibanding sebelumnya adalah: hujan tidak terlalu lama (sekitar dua jam), tetapi dampaknya langsung terasa — aliran air deras, luapan sungai, dan sawah terendam. Warga khawatir bahwa jika hujan lebih lama atau intens, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Implikasi & Risiko yang Membayangi: Banjir, Longsor, dan Krisis Lingkungan
- Fenomena “air terjun dadakan” di perbukitan bukan sekadar atraksi alam; ini merupakan peringatan dini bahwa daerah perbukitan di Sembalun kini berada di ambang krisis ekologis dan kebencanaan — potensi banjir bandang, longsor, dan kerusakan lahan pertanian jadi sangat nyata.
- Sawah warga yang terendam menunjukkan dampak langsung terhadap mata pencaharian masyarakat: pertanian — sumber utama penghidupan — bisa terganggu dalam skala besar jika kejadian serupa terulang.
- Jika alih fungsi lahan terus berlangsung tanpa mitigasi lingkungan — seperti sistem drainase, penanaman kembali pohon penahan tanah, dan evaluasi ulang kebijakan tata ruang — kondisi ini bisa memperparah kerentanan Sembalun terhadap bencana alam.
Seruan dari Komunitas dan Masyarakat: Butuh Regulasi dan Mitigasi Lingkungan
- Warga meminta pihak berwenang — pemerintah daerah dan pemerintah provinsi — untuk segera meninjau kebijakan perizinan pembangunan vila dan proyek perkebunan di kawasan perbukitan. Mereka menuntut regulasi yang tegas agar pembangunan tidak merusak ekosistem lereng. Hal ini telah disuarakan warga beberapa bulan sebelum fenomena terpanas ini.
- Komunitas lingkungan — seperti Sembapala Sembalun — mendesak dilakukan pemetaan risiko bencana di lereng bukit, serta langkah mitigasi seperti reforestasi, penjagaan tata guna lahan, dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya alih fungsi tanpa perhitungan.
- Masyarakat diimbau waspada terutama saat musim hujan, serta tidak menyepelekan fenomena ini sebagai sekadar “alam berubah” — karena efeknya bisa serius: banjir bandang dan kerusakan lahan pertanian sudah bisa terjadi dalam hitungan jam.
Alarm Lingkungan di Lereng Sembalun
Fenomena air terjun dadakan di perbukitan Sembalun — yang kini viral dengan julukan “gunung menangis” — seharusnya menjadi alarm keras bahwa pembangunan dan ekspansi tanpa tata ruang yang bijak dapat mengundang bencana.
Meski hujan sehari itu singkat, dampaknya langsung terasa — bukit yang seharusnya mampu meresap air malah berubah jadi jalur deras, sungai meluap, dan sawah terendam. Ini menunjukkan bahwa kerentanan lingkungan di Sembalun sudah berada di titik kritis.
Lebih dari sekadar fenomena spektakuler di media sosial, kejadian ini menyimpan potensi krisis: bencana banjir, longsor, kemiskinan petani, dan kerusakan ekosistem. Jika tidak ada langkah nyata — regulasi, mitigasi lingkungan, dan kesadaran kolektif — Sembalun bisa menghadapi bencana lebih besar di masa mendatang.
1 thought on “Fenomena “Air Terjun Dadakan” di Sembalun, Pertanda Apa ?”