
SpesialOlahraga,- Era baru Tim Nasional (Timnas) Indonesia di bawah kepemimpinan John Herdman mulai memasuki fase krusial. Pelatih asal Inggris tersebut dijadwalkan melakukan perjalanan ke Eropa pada akhir Januari hingga awal Februari 2026 untuk memantau langsung para pemain keturunan Indonesia yang berkarier di Benua Biru.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang PSSI dan Herdman dalam memperkuat kedalaman skuad Garuda. Target besar pun telah dicanangkan, yakni meningkatkan daya saing Indonesia di level Asia dan membuka jalan menuju ambisi jangka panjang menembus Piala Dunia 2030.
Misi Penting ke Eropa
Kunjungan Herdman ke Eropa bukan sekadar agenda rutin. Tahun 2026 menjadi periode padat bagi Timnas Indonesia, dengan rangkaian agenda internasional yang menuntut kesiapan skuad secara menyeluruh.
Skuad Garuda dijadwalkan tampil dalam FIFA Series pada Maret, dilanjutkan sejumlah FIFA Matchday sepanjang tahun, hingga menghadapi Piala AFF 2026 yang akan dimulai pada 25 Juli. Dengan jadwal sepadat itu, kebutuhan akan pemain berpengalaman dan terbiasa dengan intensitas tinggi menjadi sangat krusial.
Dalam keterangannya di Jakarta, Herdman menegaskan bahwa standar sepak bola internasional menuntut kualitas tertentu.
“Untuk bersaing di panggung dunia, Anda butuh pemain yang bermain di lima liga top dunia,” ujar Herdman.
Pernyataan tersebut menjadi dasar kuat mengapa Eropa menjadi fokus utama pencarian talenta.
1. Penyerang Tengah dari Liga Eropa Barat (Solusi Lini Depan)
Posisi penyerang tengah masih menjadi salah satu titik krusial dalam skuad Timnas Indonesia. Herdman diperkirakan akan memantau pemain keturunan yang bermain sebagai striker di liga Eropa Barat, khususnya yang terbiasa menghadapi duel fisik dan tempo cepat.
Profil penyerang seperti ini dinilai mampu memberikan solusi konkret bagi lini depan Garuda, terutama dalam laga-laga ketat yang membutuhkan penyelesaian akhir klinis. Pengalaman bermain di level kompetitif Eropa juga menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kualitas serangan Indonesia.
2. Gelandang Box-to-Box dengan Intensitas Tinggi
Selain lini depan, sektor tengah juga menjadi perhatian utama. Herdman dikenal menyukai gelandang yang mampu bekerja di kedua fase permainan, bertahan sekaligus menyerang.
Pemain keturunan Indonesia yang berkarier sebagai gelandang box-to-box di Eropa berpotensi besar masuk radar. Karakter agresif, mobilitas tinggi, dan kemampuan membaca permainan menjadi atribut penting untuk menopang permainan Timnas di level Asia maupun internasional.
3. Bek Tengah dengan Jam Terbang Kompetitif
Lini pertahanan tidak luput dari evaluasi. Timnas Indonesia membutuhkan bek tengah yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam pengambilan keputusan.
Bek keturunan yang bermain di kompetisi Eropa dinilai bisa membawa ketenangan di lini belakang. Pengalaman menghadapi striker berkualitas di liga-liga Eropa akan menjadi modal berharga dalam menghadapi tekanan di turnamen internasional.
4. Bek Sayap Modern yang Aktif Menyerang
Perkembangan sepak bola modern menuntut bek sayap untuk aktif membantu serangan. Herdman diperkirakan akan memantau pemain keturunan yang berposisi sebagai full-back atau wing-back dengan kemampuan ofensif baik.
Pemain dengan profil ini dapat memberikan variasi serangan dari sisi lapangan sekaligus menjaga keseimbangan pertahanan. Kecepatan, stamina, dan kemampuan crossing menjadi aspek penting yang dicari.
Naturalisasi sebagai Bagian Strategi
Keempat profil pemain tersebut memiliki satu kesamaan: darah Indonesia. Hal ini membuat mereka berpeluang masuk ke dalam program naturalisasi PSSI, tentunya dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.
Bagi Herdman, proses ini bukan sekadar menambah pemain, melainkan membangun fondasi tim yang mampu bersaing secara konsisten di level tinggi.
Menuju Target Besar 2030
Pemantauan pemain di Eropa menjadi langkah awal dari misi besar Timnas Indonesia. Dengan kombinasi pemain lokal dan keturunan berpengalaman di liga top, Herdman berharap Garuda dapat naik level secara signifikan.
Tahun 2026 menjadi fase penting pembentukan tim, sekaligus penentu arah perjalanan Timnas Indonesia menuju target jangka panjang Piala Dunia 2030.