
SpesialEkonomi,- Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara terkait kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini mengalami beberapa tantangan besar. Salah satunya adalah pelemahan tajam nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS, serta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 3,27 persen pada Senin, 9 Maret 2026.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Purbaya menyalahkan sebagian kalangan ekonom yang ia nilai berperan dalam menciptakan ketidakpastian pasar. Ia menanggapi pernyataan sejumlah ekonom yang menyebutkan Indonesia sedang memasuki masa resesi serupa dengan krisis ekonomi 1998, yang menyebabkan daya beli masyarakat hancur.
“Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi, 1998 lagi, ya gitulah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu,” ungkap Purbaya dengan nada tegas.
Pelemahan Rupiah dan Anjloknya IHSG
Pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG menjadi sorotan utama dalam beberapa hari terakhir. Pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, mata uang Garuda sempat menembus angka Rp 17.017 per dolar AS, yang merupakan level terendah sejak krisis ekonomi Asia tahun 1998. Meskipun angka ini tidak bertahan lama, namun hal tersebut mencerminkan kecemasan pasar terhadap kondisi perekonomian Indonesia yang semakin melemah.
Sementara itu, IHSG juga mengalami penurunan signifikan, turun 3,27 persen pada hari yang sama, dengan posisi penutupan berada di level 7.337. Penurunan IHSG ini mencerminkan kondisi pasar saham yang sangat rentan, di mana investor menunjukkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan ekonomi, baik domestik maupun global.
Reaksi Menkeu Purbaya
Menanggapi fenomena ini, Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa penyebab utama pelemahan rupiah dan IHSG adalah ketidakpastian yang tercipta akibat pandangan pesimis sebagian kalangan ekonom. Ia mengkritik sejumlah ekonom yang terlalu cepat menyatakan bahwa Indonesia sedang menuju resesi ala 1998, padahal menurutnya kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia hampir tiga dekade lalu.
“Kalau kita terus menerus membicarakan soal resesi, ya tentu saja ini menciptakan ketidakpastian di pasar. Kita harus berhati-hati dalam memberikan pernyataan, karena itu bisa berpengaruh pada psikologi pasar,” tambah Purbaya.
Ia pun menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini jauh berbeda dengan kondisi pada 1998, yang ditandai dengan depresi ekonomi yang sangat dalam dan krisis moneter. “Kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan saat itu. Daya beli memang tertekan, tetapi ekonomi kita masih tumbuh, dan sektor-sektor tertentu seperti industri digital dan energi terbarukan menunjukkan perkembangan positif,” ujar Purbaya.
Daya Beli Masyarakat dan Tantangan Ekonomi Global
Salah satu isu utama yang sering dibahas dalam pembahasan ekonomi Indonesia saat ini adalah daya beli masyarakat yang menurun. Inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga barang dan bahan bakar menyebabkan beban yang semakin berat bagi banyak rumah tangga, terutama yang bergantung pada pengeluaran sehari-hari.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa meskipun daya beli masyarakat tertekan, ini bukanlah indikator utama yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada dalam krisis ekonomi yang parah. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk meredam dampak inflasi, termasuk melalui subsidi dan program bantuan sosial.
“Daya beli memang menurun, tetapi tidak seperti yang diprediksi sebagian ekonom. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kestabilan harga dan memastikan bantuan bagi mereka yang terdampak. Kita sedang berada di jalur yang benar untuk menjaga stabilitas ekonomi,” katanya.
Namun, Purbaya juga mengakui bahwa tantangan global turut berperan besar dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Gejolak pasar dunia, termasuk dampak dari perang di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak, serta ketidakpastian ekonomi di negara-negara besar, turut memberikan tekanan pada perekonomian domestik.
Pandangan Ekonom dan Resesi
Pernyataan Purbaya ini tentu saja mendapat tanggapan dari kalangan ekonom. Sebagian ekonom menganggap bahwa sikap pesimis terhadap kondisi perekonomian Indonesia tidak sepenuhnya tidak berdasar, mengingat beberapa faktor eksternal dan internal yang mengancam stabilitas ekonomi.
Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, misalnya, menyatakan bahwa meskipun Indonesia tidak mengalami resesi seburuk tahun 1998, kondisi perekonomian global yang tidak menentu dan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat Indonesia sangat rentan terhadap krisis. Menurut Faisal, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi, dampaknya tetap terasa di masyarakat.
“Tidak ada yang menyarankan untuk menakut-nakuti, tapi fakta yang ada tetap menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang sulit diprediksi. Kita harus hati-hati,” ujar Faisal.
Namun, meskipun ada perbedaan pandangan antara pemerintah dan beberapa ekonom, Purbaya tetap berpegang pada keyakinannya bahwa Indonesia mampu bertahan dan pulih dari tantangan ini. Ia mengimbau agar masyarakat tidak terbawa oleh kekhawatiran yang berlebihan dan tetap menjaga optimisme dalam menghadapi situasi sulit.
Upaya Pemerintah untuk Memperbaiki Kondisi Ekonomi
Untuk mengatasi berbagai tantangan ekonomi ini, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai kebijakan, termasuk program stimulus ekonomi, subsidi bahan bakar, serta pengembangan sektor-sektor yang memiliki potensi besar, seperti industri digital dan energi terbarukan.
Purbaya menekankan bahwa meskipun perekonomian Indonesia menghadapi tekanan, pemerintah akan terus berusaha menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan lapangan kerja, dan menanggulangi dampak negatif inflasi. Ia juga meminta agar masyarakat tidak terjebak dalam ketidakpastian yang diciptakan oleh pandangan pesimis yang beredar di luar sana.
“Yang terpenting adalah kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berusaha, beradaptasi, dan berinovasi agar Indonesia tetap kuat dan berkembang,” ujar Purbaya.
Kesimpulan
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang sedang menghadapi banyak tantangan, mulai dari pelemahan rupiah hingga penurunan IHSG. Meskipun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia masih jauh dari resesi ala 1998. Purbaya menyoroti bahwa pandangan pesimis sebagian ekonom yang beredar dapat memperburuk ketidakpastian pasar.
Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai kebijakan, meskipun tantangan eksternal tetap mempengaruhi keadaan. Dalam menghadapi situasi ini, sikap optimis dan kebersamaan menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi Indonesia di tengah krisis global yang sedang berlangsung.