
SpesialBerita,- Pergerakan tanah kembali terekam di kawasan Kelok 9, salah satu ruas jalan strategis penghubung Sumatera Barat–Riau, pada Rabu siang, 17 Desember 2025. Video kejadian yang beredar di media sosial memperlihatkan material tebing longsor dan bagian dinding penahan di bawah flyover runtuh secara bertahap, memicu kekhawatiran masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di lokasi tersebut.
Peristiwa ini terjadi di titik yang sama dengan longsor besar yang melanda kawasan **Flyover Kelok Sembilan pada September 2025, yang sempat membuat jalur utama lumpuh total selama beberapa jam akibat tertimbunnya material tanah dan bebatuan.
Rekaman Pergerakan Tanah Memicu Kepanikan
Beredarnya video dari pengendara yang melintas menunjukkan dinding penahan dan material di bagian bawah flyover perlahan runtuh, bergeser ke arah badan jalan. Meskipun material longsor pada kejadian 17 Desember belum menutup seluruh jalur utama, peristiwa tersebut tetap menyebabkan kepanikan bagi pengendara dan memaksa sejumlah kendaraan mengurangi kecepatan secara drastis dan memberikan jarak aman saat melintas.
Lokasi kejadian, seperti diketahui, merupakan salah satu titik rawan longsor karena kontur tanah yang curam dan curah hujan tinggi yang sering terjadi di daerah tersebut pada musim hujan. Kawasan Kelok 9 sendiri merupakan bagian dari jalan nasional yang menghubungkan kawasan tengah dan timur Sumatra yang memiliki belokan tajam serta dikelilingi perbukitan, membuatnya rentan terhadap pergerakan tanah ketika hujan deras mengguyur.
Longsor September 2025: Akses Ikonik Lumpuh Beberapa Jam
Sebagai perbandingan, longsor besar pada 18–19 September 2025 terjadi di titik flyover yang sama. Material tanah dan batuan menutupi badan jalan di bawah flyover, menyebabkan arus lalu lintas di jalur penghubung Sumatra Barat dengan Riau lumpuh total hingga sekitar 12 jam, hingga akhirnya alat berat dikerahkan untuk membersihkan material dan membuka kembali akses jalan tersebut.
Dalam insiden itu, material longsor memiliki ketinggian cukup signifikan dan membuat pihak berwenang harus memprioritaskan keselamatan pengguna jalan sambil menunggu pembersihan selesai. Meski kondisi tersebut telah pulih, kejadian itu menjadi pengingat kuat bahwa Kelok 9 termasuk kawasan rawan bencana pergerakan tanah ketika curah hujan tinggi.
Potensi dan Penyebab Utama Pergerakan Tanah
Para ahli dan instansi terkait menyatakan bahwa tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir berperan besar dalam pergerakan tanah dan longsor di kawasan tersebut. Curah hujan yang ekstrem mampu membuat tanah kehilangan daya ikat dan semakin labil, sehingga berpotensi runtuh turun ke badan jalan atau struktur penahan lainnya. Pola curah hujan ekstrem di akhir tahun juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terkait fenomena cuaca tahunan dan potensi hujan lebat yang terus dipantau oleh BMKG dan BPBD setempat.
Selain faktor alam, kontur geografis daerah yang berbukit dan memiliki banyak titik kelokan tajam juga membuat pergerakan tanah lebih mudah terjadi jika struktur tanah sudah jenuh dengan air. Hal ini semakin diperparah oleh pintu masuk air ke dalam retakan tanah, lapisan batuan, serta drainase yang kurang optimal di beberapa titik ruas jalan yang menanjak.
Tanggapan Pemerintah dan Upaya Antisipasi
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun instansi lain terkait peta risiko terperinci pasca kejadian 17 Desember. Namun, setelah bencana longsor sebelumnya di September, berbagai langkah mitigasi seperti pemantauan titik-titik rawan dan koordinasi dengan dinas perhubungan sudah dilakukan. Petugas juga terus mengimbau agar pengendara selalu waspada, terutama saat kondisi cuaca buruk.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah kini tengah memfokuskan pendampingan dalam percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya rusak berat atau terancam oleh pergerakan tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran perhatian untuk tidak hanya fokus pada pemulihan akses jalan, tetapi juga pada perlindungan warga yang terancam langsung oleh bencana tanah longsor.
Imbauan untuk Masyarakat dan Pengendara
BPBD dan aparat terkait kembali mengimbau masyarakat serta pengendara yang melintas di kawasan Kelok 9 untuk selalu memperhatikan perkembangan cuaca terbaru, menjaga jarak aman saat berkendara, dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Terlebih saat hujan deras turun, potensi pergerakan tanah di titik rawan bisa meningkat secara signifikan.
1 thought on “Pergerakan Tanah Kembali Terjadi di Kelok 9: Bahaya Longsor”