
SpesialOlahraga,- Seorang pesepak bola profesional dari Persiraja Banda Aceh, Muammar Khadafi, tengah menjalani pengalaman paling sulit di luar lapangan. Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Timur pada akhir November 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memutus koneksi komunikasi di banyak kawasan — termasuk kampung halaman Khadafi. Hingga Minggu (30/11/2025), ia belum menerima satupun kabar dari istri, anak, maupun keluarga besarnya di Idi, Aceh Timur.
“Saya sudah lima hari tidak bisa komunikasi dengan anak, istri, dan keluarga di kampung. Seluruh Aceh Timur tidak ada jaringan. Tempat mengungsi pun saya belum tahu,” ujar Khadafi, mewakili kegelisahan banyak korban yang terputus informasi.
Dampak Banjir di Aceh Timur — Skala Kerusakan dan Krisis Komunikasi
Bencana di Aceh Timur termasuk salah satu yang paling parah dalam gelombang banjir bandang di Sumatra akhir November 2025. Berdasarkan data resmi, sebanyak 29.706 warga terdampak, dengan sekitar 7.972 rumah dari 124 gampong di Aceh Timur dilaporkan terendam banjir.
Selain itu, puluhan kecamatan dan kampung — di mana ribuan keluarga tinggal — menjadi sulit dijangkau akibat putusnya jalan, jembatan, serta lumpuhnya jaringan seluler dan listrik. Akibatnya, banyak warga tidak bisa memberi kabar atau menerima informasi tentang nasib keluarga mereka sendiri.
Kondisi ini membuat pencarian korban dan distribusi bantuan logistik semakin sulit. Sebagian wilayah bahkan benar-benar terisolasi — tidak bisa diakses kendaraan maupun komunikasi — sehingga pemantauan kondisi warga sangat terbatas.
Keputusan Khadafi: Pulang ke Aceh Mencari Sendiri
Merasa khawatir dan tidak mendapat kabar dari keluarganya, Khadafi memutuskan mengambil langkah sendiri: kembali ke kampung halamannya di Aceh Timur pada awal Desember 2025. Ia berharap bisa menemui keluarga secara langsung meskipun ia mengaku bingung harus mulai mencari ke mana.
Langkah ini sekaligus mencerminkan dilema yang dihadapi banyak korban banjir: ketika komunikasi elektronik tak bisa diandalkan, cara tradisional — seperti kembali ke lokasi asal — menjadi satu-satunya harapan untuk memastikan kondisi orang terkasih.
Tanggapan Klub dan Realitas Pemain dalam Krisis
Manajemen Persiraja mengaku memahami situasi darurat yang dialami Khadafi. Mereka memastikan bahwa seluruh pemain dan ofisial tim dalam kondisi baik di Banda Aceh, mengingat tim sedang dalam masa libur. Namun mereka juga menyatakan prihatin terhadap banyak pemain lain maupun keluarga mereka yang terdampak bencana di kampung halaman masing-masing.
Realitas ini menunjukkan bahwa banjir bandang bukan hanya soal kerugian fisik — rumah, harta, dan infrastruktur — tetapi juga gangguan emosional dan psikologis. Ketidakpastian tentang keselamatan keluarga, ketidakmampuan berkomunikasi, serta rasa cemas yang menghantui membuat krisis ini terasa sangat personal, bahkan bagi sosok publik seperti atlet profesional.
Apresiasi, Harapan, dan Panggilan untuk Solidaritas
Kisah Khadafi membuka perhatian publik bahwa dampak bencana menyasar siapa saja — tidak mengenal profesi atau status sosial. Sekalipun seorang atlet, ia menghadapi kekhawatiran seperti banyak warga biasa: kehilangan kontak, tidak tahu nasib orang terkasih, dan kebingungan mencari bantuan.
Publik dan pihak terkait (pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, komunitas sepak bola) memiliki peran besar untuk membantu korban: mempercepat pemulihan jaringan komunikasi, memperluas distribusi bantuan ke daerah terisolir, dan memberikan dukungan psikososial bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga atau rumah.
Semoga langkah Khadafi bisa menjadi inspirasi — bahwa di tengah krisis, kemanusiaan dan solidaritas menjadi pondasi utama. Dan semoga keluarganya serta seluruh korban banjir di Aceh Timur segera ditemukan dalam keadaan selamat.
1 thought on “Pemain Persiraja: Pencarian Keluarga di Tengah Banjir Bandang”