
Harapan Rekonstruksi Gaza dan Kontroversi Global
SpesialBerita,- Rencana Amerika Serikat menggelar pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) pada 19 Februari 2026 mulai menjadi sorotan dunia internasional. Inisiatif yang digagas Presiden Donald Trump ini diklaim bertujuan membantu stabilisasi konflik global, dengan fokus awal pada rekonstruksi Gaza pascaperang. Namun di balik ambisi tersebut, muncul pula kritik keras dari sejumlah pakar dan pengamat hubungan internasional.
Rencana Pertemuan Perdana dan Agenda Gaza
Menurut laporan sejumlah media internasional, Gedung Putih tengah mempersiapkan pertemuan pertama BoP yang direncanakan berlangsung di Institut Perdamaian AS (U.S. Institute of Peace) di Washington. Pertemuan ini juga disebut akan berfungsi sebagai konferensi penggalangan dana untuk rekonstruksi Gaza.
Meski demikian, rencana tersebut masih berada dalam tahap awal sehingga masih berpotensi mengalami perubahan jadwal maupun format pelaksanaan.
Laporan lain menyebut pertemuan itu akan berfokus pada pengumpulan dana rekonstruksi dan implementasi fase lanjutan dari kesepakatan gencatan senjata Israel–Hamas.
Sebagai bagian dari rangkaian agenda diplomasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga dijadwalkan bertemu Presiden Trump di Gedung Putih sehari sebelum pertemuan BoP digelar.
Apa Itu “Board of Peace”?
Board of Peace merupakan badan internasional baru yang diluncurkan pada awal 2026 sebagai bagian dari fase kedua kesepakatan gencatan senjata Gaza yang dicapai pada Oktober 2025. Badan ini dirancang untuk mengawasi stabilisasi keamanan, tata kelola, serta rekonstruksi wilayah Gaza.
Dewan ini juga mendapat legitimasi melalui resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberi mandat sementara hingga sekitar 2027, khususnya untuk mendukung stabilitas dan pembangunan kembali Gaza.
Trump disebut akan memimpin langsung dewan tersebut sebagai ketua, dengan kewenangan besar dalam pengambilan keputusan strategis organisasi.
Selain itu, struktur organisasi BoP melibatkan sejumlah tokoh global, termasuk pejabat tinggi pemerintahan AS, tokoh bisnis internasional, dan mantan pemimpin negara, dengan masing-masing bertanggung jawab pada sektor pembangunan, pendanaan, dan stabilisasi politik.
Ambisi Lebih Besar: Dari Gaza ke Konflik Global
Walaupun awalnya berfokus pada Gaza, sejumlah laporan menyebut Board of Peace berpotensi berkembang menjadi forum internasional yang menangani konflik global lain di masa depan.
Trump bahkan disebut mengundang puluhan negara untuk berpartisipasi dalam inisiatif tersebut. Dalam konsep awal, negara anggota dapat memperoleh status permanen jika memberikan kontribusi dana besar terhadap program dewan.
Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran sebagian pihak karena dinilai berpotensi menciptakan sistem pengaruh berbasis pendanaan dalam diplomasi global.
Kritik dan Kekhawatiran Dunia Internasional
Meski mendapat dukungan dari beberapa negara dan bahkan mandat terbatas dari PBB, Board of Peace juga memicu kontroversi besar.
Beberapa diplomat Barat khawatir badan ini dapat melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai forum utama penyelesaian konflik global.
Selain itu, sejumlah pengamat menilai struktur dan konsep pengawasan konflik oleh negara besar berpotensi menyerupai sistem kolonial modern.
Kritik lain muncul terkait minimnya representasi Palestina dalam struktur dewan, meskipun fokus utamanya adalah rekonstruksi Gaza.
Kritik tersebut diperkuat oleh fakta bahwa konflik di kawasan tersebut masih berlangsung sporadis, dengan pelanggaran gencatan senjata dan korban jiwa terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Tantangan Politik dan Diplomasi
Secara geopolitik, Board of Peace berpotensi mengubah keseimbangan arsitektur diplomasi global.
Sebagian sekutu Barat belum sepenuhnya mendukung inisiatif ini, sementara negara lain melihatnya sebagai peluang memperluas pengaruh politik dan ekonomi dalam rekonstruksi Gaza.
Selain itu, hubungan AS dengan lembaga internasional seperti PBB juga menjadi sorotan, terutama di tengah isu kontribusi pendanaan dan reformasi kelembagaan global.
Masa Depan Board of Peace: Harapan atau Risiko?
Jika pertemuan perdana benar-benar terlaksana pada 19 Februari, Board of Peace akan memasuki fase implementasi nyata.
Keberhasilan dewan ini akan sangat bergantung pada tiga faktor utama:
- Dukungan negara anggota
- Kepercayaan masyarakat internasional
- Stabilitas keamanan di Gaza
Jika berhasil, BoP dapat menjadi model baru kolaborasi internasional dalam konflik modern. Namun jika gagal, organisasi ini berisiko menjadi simbol rivalitas geopolitik baru di tingkat global.
Kesimpulan
Rencana pertemuan perdana Board of Peace menandai babak baru dalam diplomasi internasional yang dipimpin Amerika Serikat. Fokus awal pada rekonstruksi Gaza memberi harapan baru bagi stabilisasi kawasan.
Namun di sisi lain, kontroversi mengenai legitimasi, representasi, dan potensi persaingan dengan PBB menunjukkan bahwa masa depan organisasi ini masih penuh ketidakpastian.
Dunia kini menunggu apakah Board of Peace akan menjadi instrumen perdamaian global, atau justru memicu dinamika geopolitik baru yang lebih kompleks.