
SpesialBerita,- Sejumlah warga di Medan mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite bahkan SPBU-SPBU dikabarkan kosong. Pantauan Jumat (28/11/2025) menunjukkan banyak SPBU tidak lagi menyediakan pertalite.
Misalnya di SPBU di berbagai jalan utama di kota — lokasi-lokasi seperti Jalan Sisingamangaraja, Jalan Brigjen Katamso, hingga SPBU di kawasan Asrama Haji dilaporkan tutup karena kekosongan stok seluruh jenis BBM.
Akibat kelangkaan ini, warga yang memerlukan BBM harus rela mengantre panjang, atau bahkan membeli dari penjual eceran di pinggir jalan dengan harga jauh lebih tinggi.
Salah seorang warga mengungkapkan frustrasinya: ratusan kendaraan mengular mengantre dari pagi sampai malam, padahal belum tentu mendapat BBM — banyak SPBU tutup atau mengosongkan stok.
Kekosongan BBM ini menghambat mobilitas warga, aktivitas harian, dan bisa berpengaruh pada distribusi bantuan serta layanan publik di tengah situasi darurat di Sumatera.
Penyebab: Cuaca Ekstrem dan Gangguan Distribusi
Penyebab utama kelangkaan adalah cuaca ekstrem — gelombang tinggi serta angin kencang — yang mengganggu proses sandar kapal tanker pengangkut BBM ke pelabuhan utama pengisian di wilayah Sumatera Utara. Dua kapal pengangkut BBM sejak 23 November 2025 dilaporkan belum bisa sandar di area Pelabuhan Belawan akibat kondisi laut yang membahayakan.
Tanpa bongkar muat dari kapal-kapal tadi, suplai ke SPBU-SPBU terganggu. Proses distribusi BBM tertunda, sementara permintaan tetap tinggi — terutama setelah banjir dan longsor membuat banyak warga serta kendaraan bergantung pada transportasi pribadi dan logistik bantuan.
Selain gangguan laut, distribusi darat juga mengalami hambatan. Banyak akses jalan dan jalur distribusi terputus atau rusak akibat bencana, membuat mobil tangki dan logistik kesulitan menjangkau sejumlah SPBU dan daerah terdampak.
Akibat kombinasi faktor — cuaca laut, kerusakan infrastruktur darat — stok menjadi sangat terbatas, dan “tersendat” ke konsumen.
Upaya Pemprov & Pihak BBM: Penanganan Darurat
Pemerintah provinsi melalui PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut bersama instansi terkait melakukan berbagai upaya mitigasi.
Sejak 24–27 November 2025, skema distribusi alternatif (skema “RAE” — Regular Alternative Emergency) diaktifkan: suplai dialihkan dari terminal lain dengan area pelayanan lebih aman. Misalnya, sebagian alokasi BBM dialihkan ke “Medan Group”, wilayah Kisaran, Sibolga–Tapanuli, dan Aceh.
Pihak Pertamina juga menambah jumlah mobil tangki dan armada distribusi, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memastikan suplai berjalan meskipun medan sulit.
Sementara itu, otoritas setempat meminta SPBU di jalur kritikal untuk beroperasi 24 jam agar kebutuhan BBM masyarakat tetap terlayani — terutama bagi kendaraan logistik, ambulans, bantuan darurat, dan mobilitas warga selama tanggap darurat.
Pihak regulator, BPH Migas, juga sudah turun memantau kondisi dan memastikan ketersediaan pasokan. Meski kapal kargo sempat tertahan, mereka menyatakan bahwa suplai tetap dijaga dan masyarakat tidak perlu panik membeli — dibutuhkan disiplin pembelian sesuai kebutuhan.
Dampak terhadap Warga dan Pelayanan Publik
Situasi kelangkaan BBM di Medan berdampak luas. Selain mempersulit mobilitas warga sehari-hari, antrean panjang kendaraan di SPBU menimbulkan kemacetan lalu lintas dan ketidakpastian — banyak yang antre tanpa kepastian mendapat BBM.
Bagi warga terdampak banjir dan longsor, kondisi ini semakin menyulitkan. Banyak kebutuhan transportasi bantuan, distribusi logistik, evakuasi, dan akses ke layanan kesehatan terhambat akibat minimnya BBM.
Beberapa daerah bahkan melaporkan stok kosong total — yang membuat pemerintah kabupaten mengirim surat resmi meminta percepatan suplai BBM.
Kekhawatiran terhadap panic buying dan penimbunan membuat pemerintah dan regulator mengimbau warga untuk tetap tenang, membeli sesuai kebutuhan, dan tidak melakukan penimbunan BBM.
Kondisi Terkini: Persediaan & Pemulihan Distribusi
Menurut pantauan resmi per 2 Desember 2025, stok di terminal-terminal Fuel Terminal (FT) dan Integrated Terminal (IT) di wilayah Sumut, Aceh, dan Sumbar tercatat dalam kondisi aman.
Contohnya: di FT Siak tercatat ratusan ribu kiloliter stok bersih; di IT Dumai suplai tetap tersedia dan didukung jalur pipa serta kapal, sehingga distribusi dipastikan kembali berjalan secara bertahap.
Meskipun begitu, sekitar 23 dari 406 SPBU di Sumut masih terdampak bencana — artinya pemulihan penuh belum terjadi.
Pihak Pertamina terus menambah armada mobil tangki, memanfaatkan suplai alternatif, dan mempercepat distribusi ke SPBU serta lembaga penyalur lain — termasuk LPG untuk kebutuhan rumah tangga.
Regulasi modus distribusi dan koordinasi 24 jam dengan pemerintah daerah terus dijaga, untuk memastikan warga tetap mendapatkan BBM dan LPG secara merata dan aman.
Kesimpulan: Ketergantungan Pasokan & Pentingnya Koordinasi
Krisis BBM di Medan bukan semata akibat krisis stok nasional, melainkan dampak dari cuaca ekstrem — yang menutup jalur distribusi laut dan merusak akses darat. Kombinasi ini membuat pasokan ke SPBU terganggu, memicu kelangkaan dan kepanikan.
Respons cepat dari Pemprov Sumut, Pertamina, dan regulator telah membantu menstabilkan suplai — lewat skema suplai alternatif dan koordinasi distribusi. Namun akses belum sepenuhnya normal, dan sebagian SPBU masih terdampak.
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat bahwa dalam situasi darurat — seperti bencana alam — sistem logistik energi sangat rentan terhadap gangguan eksternal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, penyedia energi, dan masyarakat sangat penting agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Dalam kondisi seperti sekarang, masyarakat diimbau untuk: membeli BBM sesuai kebutuhan, tidak panic buying, dan tetap mematuhi himbauan resmi. Pemerintah dan penyedia energi pun diharapkan terus menjaga transparansi distribusi agar bantuan, mobilitas, dan layanan publik tetap berjalan dengan baik.
1 thought on “Kelangkaan BBM di Medan: Situasi di Lapangan Memanas”