
SpesialOlahraga,- Pada Sabtu siang waktu Inggris, akademi Liverpool kembali menghadapi kenyataan pahit ketika tim U18 mereka dihancurkan 7-0 oleh Manchester United dalam laga lanjutan U18 Premier League North di kompleks latihan Kirkby. Skor mencolok ini sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya barisan belakang Liverpool — sekaligus mempertegas superioritas Manchester United pada hari itu.
Gol Pembuka hingga Hat-trick Pemain Muda United
Yang membuka keran gol adalah pemain United bernama Bendito Mantato. Mantato memanfaatkan serangan cepat dan lewat tusukan ke dalam kotak penalti sebelum melepaskan tembakan rendah yang tak bisa dihentikan oleh kiper Liverpool, Kornel Misciur.
Keunggulan United berlipat menjelang jeda ketika JJ Gabriel menunjukkan skill memukau — menggiring bola, memotong satu arah lalu arah lain, sebelum menempatkan bola ke sudut jauh gawang. Gol tersebut menegaskan dominasi tamu pada babak pertama.
Setelah turun minum, Gabriel kembali menjadi momok. Dengan lari cerdas ke kotak penalti dan penyelesaian yang tenang, dia menambah gol keduanya. Beberapa menit kemudian, gol ketiga dari Gabriel — yang melengkapi hat-trick — memastikan bahwa United benar-benar mendominasi pertandingan.
Selain Gabriel, beberapa pemain United lainnya juga ikut menyumbang gol: Louie Bradbury masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol, kemudian penalti sukses dari Jim Thwaites, serta gol dari Samuel Lusale yang melengkapi rentetan gol bagi tim tamu.
Liverpool Menunjukkan Percikan, Tapi Tidak Cukup
Meski kalah telak, tim muda Liverpool tidak sepenuhnya tanpa asa. Pada awal babak pertama, umpan rendah dari Joe Bradshaw hampir membuahkan gol ketika Finn Inglethorpe menggiring kiper — sayangnya tendangannya hanya mengenai jaring samping.
Kemudian, La’More Lee Forrester juga memaksa reaksi dari kiper United dengan tembakan dari tepi kotak penalti — namun penyelesaiannya masih bisa digagalkan.
Sayangnya, dua peluang tersebut merupakan hal positif langka dalam performa malam itu. Kelelahan dari pertandingan tengah pekan sebelumnya dan formasi belakang yang diisi pemain — termasuk beberapa debutan penuh — membuat pertahanan rentan dan sulit beradaptasi terhadap tekanan konstan dari United.
Konteks Lebih Luas: Investasi, Tekanan, dan Pelajaran Berat
Kekalahan ini terjadi di tengah saat yang rumit bagi akademi Liverpool. Sebelumnya, tim muda juga sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan; kombinasi cedera, beban pertandingan, dan penjadwalan padat membuat pilihan skuad menjadi terbatas.
Di sisi lain, manajemen klub melalui pemilik FSG telah menanam investasi signifikan dalam fasilitas akademi—termasuk proyek dome senilai jutaan pound di Kirkby—dalam upaya memperkuat jalur pengembangan pemain muda menuju tim senior. Namun, hasil semacam ini mengundang perhatian: apakah investasi dan harapan besar itu sudah sejalan dengan hasil di lapangan?
Bagi para pemain muda, kekalahan ini adalah pelajaran keras. Perbedaan antara intensitas dan disiplin di level tertinggi akademi kini semakin nyata. Penampilan seperti ini tidak hanya merusak kepercayaan diri — tapi juga bisa mempengaruhi prospek mereka untuk naik ke tim senior. Di saat klub pertama membutuhkan kedalaman skuad akibat cedera atau rotasi, performa seperti ini membuat pintu itu tampak berat tertutup.
Menuju Pemulihan dan Tantangan Berikutnya
Meski hasil kali ini memukul keras, para pengamat akademi menekankan bahwa konteks — formasi darurat, kelelahan, dan eksperimental line-up — membuat hasil tidak bisa dilihat hanya dari skor. Bagaimanapun pencapaian dan perkembangan pemain tetap menjadi prioritas, bahkan jika itu berarti hasil belum maksimal.
Liverpool U18 dijadwalkan kembali turun ke lapangan pada 6 Desember melawan Middlesbrough U18. Ini bakal jadi kesempatan penting untuk menunjukkan bahwa tim muda masih mampu bangkit — dan bahwa kelemahan dalam pertandingan melawan United bukanlah cerminan akhir dari potensi mereka.
Bagi banyak pemain, ini adalah momen refleksi. Untuk klub, ini adalah pengingat bahwa investasi, pelatihan, dan perencanaan panjang harus terus diiringi konsistensi dan kedalaman skuad — terutama di level yang menjadi ujung tombak masa depan klub.