
SpesialEdukasi,- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (19/1/2026), pelemahan rupiah terjadi cukup signifikan di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di posisi Rp 16.955 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 68 poin atau 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu.
Tekanan terhadap mata uang garuda juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Bank Indonesia (BI) mencatat Jisdor berada di level Rp 16.935 per dolar AS, melemah 55 poin atau 0,33 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Kekhawatiran Defisit Anggaran Jadi Pemicu
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tidak terjadi tanpa sebab. Menurutnya, kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar.
Pasar mencermati potensi defisit anggaran yang berpeluang melewati ambang batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Isu ini dinilai sensitif karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap disiplin fiskal pemerintah.
“Penyebabnya masih sama, kekhawatiran defisit anggaran melewati 3 persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” ujar Lukman saat dihubungi.
Kondisi tersebut mendorong investor bersikap lebih defensif, terutama terhadap aset berdenominasi rupiah. Ketika risiko fiskal meningkat, arus modal asing cenderung bergerak lebih selektif, bahkan berpotensi keluar dari pasar domestik.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga BI
Selain faktor fiskal, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Munculnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan dinilai turut memberi tekanan pada rupiah.
Secara teori, penurunan suku bunga dapat mengurangi daya tarik aset keuangan dalam negeri, terutama bagi investor asing yang mencari imbal hasil tinggi. Dalam kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, selisih imbal hasil menjadi faktor penting dalam keputusan investasi.
Kombinasi kekhawatiran defisit anggaran dan ekspektasi pelonggaran moneter menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah, meskipun faktor fundamental ekonomi domestik dinilai masih relatif terjaga.
Pasar Menanti RDG BI
Menurut Lukman, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Komunikasi kebijakan yang disampaikan BI akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Ada potensi tembus 17.000, namun tidak bisa sepenuhnya pasti. Tergantung pada retorika dalam RDG BI,” kata Lukman.
Pasar akan mencermati sejauh mana komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, khususnya di tengah tekanan eksternal dan dinamika kebijakan global. Pernyataan yang bersifat hawkish berpotensi menahan pelemahan rupiah, sementara sinyal dovish dapat memperbesar tekanan.
IHSG Justru Cetak Rekor Baru
Menariknya, pelemahan rupiah tidak diikuti oleh pelemahan pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melanjutkan penguatan dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH).
Pada penutupan perdagangan Senin pukul 16.00 WIB, IHSG menguat 58,46 poin atau 0,64 persen ke level 9.133,87. Level tersebut menjadi pencapaian tertinggi baru bagi pasar saham Indonesia.
Sejak dibuka di posisi 9.098,70, IHSG langsung bergerak di zona hijau. Meski sempat tertekan di awal sesi dan turun hingga menyentuh level terendah harian 9.025,99, indeks berbalik arah dan menguat secara konsisten hingga penutupan.
Aktivitas Perdagangan Ramai
Aktivitas perdagangan saham berlangsung cukup ramai. Volume transaksi tercatat mencapai 85,35 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 35,91 triliun. Frekuensi transaksi juga menembus 3,93 juta kali.
Kondisi ini menunjukkan minat investor terhadap pasar saham domestik masih kuat, meskipun nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan. Sejumlah pelaku pasar menilai penguatan IHSG mencerminkan optimisme terhadap kinerja emiten serta prospek ekonomi jangka menengah.
Dua Arah Pasar yang Berbeda
Perbedaan arah antara rupiah dan IHSG menegaskan kompleksitas dinamika pasar keuangan. Di satu sisi, pasar valuta asing dibayangi sentimen kehati-hatian. Di sisi lain, pasar saham masih mendapatkan dukungan sentimen positif.
Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan Bank Indonesia serta keyakinan pasar terhadap pengelolaan fiskal pemerintah.