
SpesialBerita,- Sebuah video yang beredar luas di media sosial beberapa hari terakhir memicu keprihatinan sekaligus amarah publik. Kepala Lingkungan (Kepling) di Kelurahan Griya Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, yang berinisial HN dicopot dari jabatannya setelah diduga menyalahgunakan bantuan bencana banjir yang seharusnya disalurkan kepada warga terdampak. Tindakan tersebut langsung ditanggapi dengan tegas oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, yang menyatakan tidak akan mentolerir praktik penyimpangan bantuan untuk masyarakat korban bencana.
Video Viral yang Mengawali Segalanya
Kecurigaan bermula dari sebuah video yang diunggah di platform seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp, memperlihatkan kepala lingkungan yang tengah memindahkan sejumlah besar barang bantuan dari posko atau gudang bantuan ke sebuah toko milik orang lain. Dalam video tersebut, sang kepling berdalih bahwa barang bantuan — seperti sembako — dipindahkan untuk keperluan dapur umum. Namun, warga sekitar yang datang justru hanya menerima tiga butir telur ketika meminta bantuan.
Konten video ini kemudian menjadi viral dan memicu kecaman dari netizen dan warga di Medan, khususnya yang tengah kesulitan akibat banjir. Banyak yang mempertanyakan integritas seorang aparatur lingkungan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat di saat darurat.
Keputusan Cepat Wali Kota Medan
Menanggapi viralnya video tersebut, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengambil langkah cepat. Ia mengonfirmasi bahwa video itu telah dipantau oleh tim pemerintahan serta dikonfirmasi kepada lurah setempat. Setelah hasil klarifikasi diterima, ia memutuskan untuk mencopot HN dari jabatannya sebagai Kepala Lingkungan.
“Kita sudah monitor dan sudah konfirmasi kembali dengan lurah. Dan akhirnya bisa diselesaikan dari pihak kelurahan. Dicopotlah, karena itu kan melakukan kesalahan,” ujar Rico Waas dalam konferensi pers, Senin, 8 Desember 2025.
Wali kota berulang kali menegaskan bahwa ia tidak akan mentolerir praktik penyimpangan dalam penyaluran bantuan bencana. Ia juga memberi peringatan tegas kepada seluruh aparat pemerintahan, baik di tingkat lingkungan maupun kelurahan, untuk bertindak transparan dan bertanggung jawab dalam menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Saya tekankan, saya tidak mau ada kejadian-kejadian terutama Kepling, lurah, memain-mainkan bantuan yang akan kita berikan kepada masyarakat. Sekali lagi saya tekankan, saya tidak main-main. Misalnya kalau yang bersangkutan ikut-ikut bermain, pasti saya tegur,” tegasnya.
Kondisi Banjir di Medan yang Masih Mendesak
Pencopotan oknum ini terjadi di tengah kondisi darurat akibat bencana banjir yang tengah melanda Kota Medan. Pemerintah Kota Medan sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir sejak akhir November 2025, menyusul hujan ekstrem yang menyebabkan luapan air menggenangi banyak wilayah. Status ini semula ditetapkan sampai 11 Desember dan kemudian diperpanjang hingga 24 Desember 2025 untuk mengoptimalkan penanganan dampak banjir dan percepatan pemulihan masyarakat.
Banjir ini berdampak cukup luas di Medan, dengan data dari BPBD Medan menunjukkan bahwa banjir telah merendam puluhan lingkungan dan ribuan rumah. Beberapa evakuasi dilakukan, serta kebutuhan logistik seperti pangan, air bersih, dan obat-obatan terus didistribusikan oleh pemerintah dan sejumlah organisasi kemanusiaan.
Respons Pemkot Medan atas Bencana dan Penyaluran Bantuan
Pemerintah Kota Medan tidak hanya fokus pada penanganan bencana secara teknis, tetapi juga mengawasi langsung proses penyaluran bantuan sosial kepada warga terdampak banjir. Pemkot juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk swasta dan lembaga non-pemerintah, untuk memastikan bantuan yang masuk tepat sasaran. Salah satunya adalah Astra Group yang menyalurkan 1.000 paket bantuan berupa beras dan mi instan kepada warga yang membutuhkan.
Namun, laporan video viral tersebut menunjukkan bahwa masih ada celah dan potensi penyalahgunaan dalam distribusi logistik bantuan, sehingga pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengawasan ketat.
Reaksi Masyarakat dan Ekosistem Demokrasi Lokal
Kasus ini sempat memicu respon beragam dari masyarakat. Mayoritas netizen dan warga lokal mengapresiasi langkah cepat pemerintah kota yang segera mencopot oknum yang diduga menyelewengkan bantuan bencana. Bagi banyak warga, insiden ini merupakan cerminan pentingnya akuntabilitas dan integritas dalam pelayanan publik, terutama di saat krisis.
Sejumlah warga juga menilai bahwa kasus tersebut memperlihatkan tantangan dalam sistem penyaluran bantuan di tingkat paling bawah — yakni lingkungan dan kelurahan. Mereka berharap agar pemerintah dapat memperkuat mekanisme pengawasan serta meningkatkan transparansi agar kejadian serupa tidak terulang.
Peringatan Keras bagi Aparatur Pemerintah
Pencopotan Kepala Lingkungan ini diharapkan bisa menjadi peringatan keras bagi seluruh aparatur pemerintah di Kota Medan, mulai dari tingkat lingkungan hingga kecamatan. Pemerintah Kota menekankan bahwa tugas penyaluran bantuan bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga merupakan bentuk amanah kepada masyarakat yang tengah menderita akibat bencana.
Selain itu, tindakan tegas ini juga ditujukan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses distribusi bantuan. Ketika warga melihat aparat pemerintah turut serta menjaga transparansi dan etika, diharapkan tingkat kepercayaan publik akan meningkat.
Upaya Pemkot Medan Menjaga Kepercayaan Publik
Di tengah masa tanggap darurat, Pemkot Medan juga mengambil langkah lain untuk menjaga kepercayaan masyarakat, termasuk dengan melakukan pengawasan internal terhadap proses pendistribusian bantuan, memperkuat koordinasi dengan unsur kecamatan dan kelurahan, serta memastikan semua laporan warga ditindaklanjuti secara cepat.
Keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini terlihat dari respons cepat yang diambil wali kota begitu video viral mencuat di media sosial. Pencopotan jabatan dilakukan hanya dalam hitungan hari, yang mencerminkan komitmen serius pemerintah terhadap pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab.
Kasus pencopotan Kepala Lingkungan di Medan atas dugaan penyalahgunaan bantuan banjir ini menjadi contoh nyata bagaimana pengawasan, transparansi, dan respons pemerintah menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan masyarakat di tengah masa krisis. Langkah tegas yang diambil Wali Kota Rico Waas menegaskan bahwa bantuan bencana harus sampai pada yang tepat, dan tindakan yang merugikan warga akan ditindak tanpa kompromi.
Situasi ini memberi pelajaran penting bagi seluruh elemen pemerintahan lokal di Indonesia bahwa amanah yang diberikan publik bukan hanya soal administratif semata, tetapi juga tentang integritas dan empati terhadap sesama — apalagi di tengah situasi darurat yang menuntut solidaritas dan kerja sama tinggi dari semua pihak.
1 thought on “Kepala Lingkungan Dicopot Usai Diduga Timbun Bantuan Banjir”