
SpesialOlahrata,- Bek muda naturalisasi Indonesia, Justin Hubner, kembali menjadi sorotan publik setelah menerima kartu merah dalam pertandingan Eredivisie antara Fortuna Sittard melawan Ajax Amsterdam akhir pekan lalu. Kejadian tersebut bukan hanya memengaruhi jalannya laga, tetapi juga memunculkan kritik tajam dari sejumlah pundit sepak bola Belanda, sebelum akhirnya Hubner membalas komentar itu lewat unggahan di media sosialnya.
Insiden Kartu Merah dalam Laga Kontra Ajax
Pada lanjutan pekan ke-15 Eredivisie musim 2025/2026, Fortuna Sittard menjamu Ajax Amsterdam di Stadion Fortuna Sittard. Saat pertandingan memasuki menit ke-83, Hubner melakukan tekel keras terhadap pemain Ajax, Rayane Bounida, yang berujung pada kartu merah dari wasit. Keputusan ini membuat Hubner harus meninggalkan lapangan lebih cepat sementara timnya tengah tertinggal.
Fortuna akhirnya kalah dengan skor 1-3 dari tim raksasa Eredivisie tersebut. Kekalahan ini makin terasa berat karena sepenuhnya bermain dengan sepuluh pemain untuk sisa waktu pertandingan.
Berdasarkan statistik musim ini, Hubner sendiri tercatat sudah mengantongi 1 kartu merah di liga bersama beberapa penampilan sebagai pemain pengganti di Fortuna Sittard.
Reaksi Pelatih Fortuna Sittard
Pasca laga, pelatih Fortuna Sittard, Danny Buijs, tidak menahan kekecewaannya atas tindakan Hubner. Ia menilai keputusan sang bek terlalu emosional dan “bodoh” dalam konteks pertandingan yang sedang berat sebelah. “Dengan kondisi tertinggal 1-3, ini bukan lagi sekadar frustrasi, sebab dia baru saja masuk ke lapangan,” ujar Buijs kepada media Belanda, menekankan pentingnya kontrol diri dalam situasi sulit.
Komentar keras pelatih ini kemudian mewarnai diskusi media di Belanda mengenai perilaku Hubner di lapangan.
Kritikan dari Pundit Belanda
Tidak hanya Buijs, dua analis sepak bola Belanda yang diundang sebagai pengamat pada program ESPN juga ikut mengecam aksi Hubner:
- Karim El Ahmadi menilai gaya permainan Hubner terkadang “gila” saat diberi izin penuh untuk bermain, karena sering melakukan tekel-tekel yang dinilai tidak efektif atau berisiko tinggi.
- Kenneth Perez, mantan pemain yang pernah berkiprah di Eredivisie, memberikan komentar yang dianggap bernada sindiran terhadap latar belakang Hubner. “Soal Hubner, saya sudah melihat mereka melakukan hal-hal itu di Indonesia,” katanya, yang kemudian memicu respons keras dari netizen Indonesia karena dianggap stereotipikal.
Komentar Perez — meskipun dalam konteks analisis taktik — dipandang oleh sebagian pendukung sebagai kurang sensitif terhadap pemain Blasteran seperti Hubner yang kini menjadi sorotan besar sebagai wakil Indonesia di kompetisi Eropa.
Unggahan Balasan Hubner di Media Sosial
Menghadapi kritik yang makin meluas, Hubner tidak tinggal diam. Melalui fitur Instastory di akun Instagram pribadinya, ia memposting sebuah visual dengan tulisan “teruslah berbicara” disertai emoji cium. Unggahan ini dianggap oleh banyak pihak sebagai respons tak langsung terhadap komentator yang mengecamnya.
Tanggapan ini lalu mendapat beragam reaksi — dari dukungan hingga kecaman — terutama dari suporter Indonesia yang membela sang bek, dan dari fans Belanda yang tetap kritis terhadap performanya di lapangan.
Dampak Kartu Merah bagi Hubner dan Fortuna Sittard
Secara kompetitif, kartu merah ini memberikan dampak negatif bagi Fortuna Sittard yang harus menjalani sisa pertandingan dengan satu pemain lebih sedikit dan akhirnya kalah. Secara personal, Hubner juga kemungkinan besar akan absen dalam beberapa laga berikutnya karena sanksi larangan bermain yang menyertai kartu merah tersebut. Hukuman ini biasa diterapkan otomatis di liga Belanda.
Perjalanan Karier Hubner di Fortuna dan Timnas Indonesia
Justin Quincy Hubner, yang lahir di Belanda dari ayah berdarah Indonesia dan ibu Belanda, menjadi sorotan setelah memutuskan naturalisasi dan tampil untuk Tim Nasional Indonesia beberapa tahun terakhir. Ia resmi menjadi Warga Negara Indonesia pada Desember 2023, dan sejak itu terus menjadi pilihan bagi skuat Garuda.
Musim 2025/2026 menjadi kesempatan besar baginya untuk membuktikan kualitas di level club Eropa bersama Fortuna Sittard. Ia sebelumnya pernah bermain di akademi dan tim muda klub Inggris Wolverhampton Wanderers serta sempat dipinjamkan ke klub Jepang Cerezo Osaka.
Reaksi Publik dan Suporter Indonesia
Di tengah kritik di Eropa, dukungan dari fans Indonesia justru makin deras. Banyak netizen yang membela Hubner, bahkan menanggapi komentar negatif dengan semangat pembelaan bahwa seorang pemain muda wajar belajar dari kesalahan dan berkembang seiring waktu. Unggahan Hubner yang tegas namun santai juga dipandang sebagai bentuk keteguhan mental menghadapi tekanan media.
Analisa Ahli tentang Perkembangan Kariernya
Beberapa pengamat sepak bola Indonesia dan media lokal menilai insiden ini bisa menjadi titik pembelajaran bagi Hubner. Mereka meyakini kualitas teknik dan potensi Hubner cukup tinggi — itulah alasan klub Belanda mempercayakan dia bermain di liga top — meskipun ada catatan soal kedewasaan dalam mengatur emosinya di lapangan. Kritik tajam dari analis Belanda juga dipandang sebagai bagian dari kultur sepakbola Eropa yang memang sangat menekankan disiplin dan kontrol diri.
Kartu merah yang dialami Justin Hubner bukan sekadar momen kontroversial di satu pertandingan liga Belanda, tetapi juga membuka diskusi lebih besar soal ekspektasi terhadap pemain naturalisasi, kedewasaan emosional di lapangan, serta bagaimana seorang pemain muda menghadapi tekanan media internasional.
Respons Hubner lewat media sosial, ditambah dukungan netizen Indonesia, juga menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemain klub Belanda — tetapi figur yang kini mewakili harapan suporter sepak bola Indonesia di pentas Eropa.
1 thought on “Justin Hubner Dianggap “Kelewat Emosional”: Kartu Merah”