
SpesialBerita,- Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), di Provinsi Sumatera Utara — tengah dilanda krisis serius pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa hari terakhir. Bencana ini tidak hanya memporak-porandakan infrastruktur dan rumah warga, tapi juga memutus jaringan telekomunikasi. Akibatnya, banyak perantau di luar daerah — terutama di Kota Medan — panik karena tidak bisa menghubungi keluarga mereka yang berada di zona terdampak.
Menurut laporan dari operator seluler, layanan di wilayah Sibolga–Tapteng lumpuh sejak Selasa siang. “Semua jaringan Telkomsel Sibolga Tapteng, khususnya Pandan, terganggu sejak jam 11 tadi sampai sekarang,” kata pejabat setempat.
Situasi makin dramatis karena cuaca dan kondisi medan yang rusak: akses jalan terputus, medan longsor, serta pemadaman listrik masal menyebabkan evakuasi dan penyaluran bantuan sulit dilakukan.
Kisah Kekhawatiran di Perantauan: Ketidakpastian Nasib Keluarga
Salah satu perantau, Mangara Wahyudi, menceritakan kecemasannya: orang tua di kampung halamannya terjebak di lantai dua rumah mereka di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Pondok Batu, Kecamatan Sarudik — sejak kemarin malam. Hingga saat ini, Mangara belum mengetahui apakah orang tuanya sudah dievakuasi karena komunikasi terputus.
Begitu pula dengan Lina Wandy — warga perantau lainnya — yang mengatakan tidak bisa menghubungi ibu dan kakaknya sejak kemarin sore. Lina bahkan membuat unggahan di media sosial, berharap ada info tentang keberadaan keluarga mereka:
“Tolong … mohon sampaikan ke saya kabar dan keberadaannya dari semalam.”
Karena ketidakpastian ini, banyak perantau dilanda kecemasan dan stres berat. Mereka bahkan tak berani tidur, terus menunggu kabar, mencoba mengontak kerabat, bahkan menghubungi tim SAR melalui media sosial — berharap ada informasi terkini.
Kondisi Terkini di Lokasi Bencana: Terisolasi dan Butuh Bantuan Segera
Bukan hanya komunikasi, akses jalan menuju banyak kecamatan di Tapteng dan Sibolga juga terputus. Material longsor dan banjir menimbun jalan, menyebabkan upaya evakuasi dan distribusi bantuan menjadi sangat sulit.
Menurut data dari lembaga penanggulangan bencana dan operator, gangguan jaringan dan pemadaman listrik meluas — banyak gardu listrik serta infrastruktur telekomunikasi rusak, tertimbun, atau terendam air.
Pihak operator seluler, Telkomsel, menyampaikan permohonan maaf dan berjanji mempercepat perbaikan jaringan. Namun proses itu diprediksi memakan waktu, karena beberapa titik sulit dijangkau dan kondisi cuaca masih tidak mendukung.
Sementara itu, tim penyelamat — termasuk aparat, relawan, dan unit SAR — terus bekerja keras membuka akses jalan, mengevakuasi korban, serta menyalurkan bantuan. Tapi kerja mereka terhambat oleh medan berat, cuaca ekstrem, dan minimnya koordinasi akibat komunikasi terputus.
Pesan dan Seruan: Kemanuasiaan, Koordinasi, dan Harapan
Krisis komunikasi ini bukan sekadar soal sinyal atau layanan; ini soal keselamatan jiwa. Banyak keluarga yang tidak tahu apakah orang tua, anak, atau saudara mereka selamat. Kekhawatiran dan kecemasan di perantauan menggema — menyerukan informasi, transparansi, dan respon cepat.
Pihak berwenang dan lembaga penyedia layanan harus melihat ini bukan hanya sebagai urusan infrastruktur, tapi sebagai tanggung jawab kemanusiaan. Pemulihan jaringan dan akses menjadi prioritas — agar korban bisa tersambung ke dunia luar, dan keluarga bisa mengetahui kondisi mereka.
Di waktu genting seperti ini, solidaritas antarsesama, perhatian publik, dan bantuan cepat sangat dibutuhkan — baik untuk korban, maupun untuk mereka yang menunggu kabar dengan harapan besar.