
Aktris dan komedian Asri Welas mengungkap bahwa dirinya sempat didatangi petugas pajak setelah publik digegerkan oleh pernyataan Baim Wong yang menyebut telah membayar Asri sebesar Rp 7 miliar hanya untuk dua adegan di film Sukma. Pernyataan tersebut, yang awalnya disampaikan oleh Baim lewat unggahan Instagram, ternyata berdampak serius di luar ranah hiburan — sampai menyentuh aspek perpajakan.
Asal Mula Kontroversi
Kisah bermula ketika Baim Wong mengunggah postingan di Instagram pada 22 September 2025, menyebut Asri Welas sebagai “Artis 7 miliar, nggak boleh nego,” lengkap dengan emoji jempol. Dalam video yang viral, Baim mengklaim bahwa Asri awalnya meminta US$ 1 juta atau sekitar Rp 15 miliar untuk dua adegan di film Sukma, namun kemudian disepakati menjadi Rp 7 miliar.
Karena pernyataan tersebut jadi konsumsi publik, Asri mengaku mendapat tanggapan resmi dari otoritas pajak. “Serius gue sampai didatangi orang pajak, dikirimi ‘surat cinta’ … ‘Mbak bayar pajaknya’,” kata Asri, seperti dikutip dari Selebrita Heits.
Klarifikasi dari Asri Welas
Meski isu honor jumbo itu viral, Asri menegaskan bahwa besaran bayaran yang selama ini dia terima belum sebesar Rp 7 miliar untuk dua adegan. Ia menyebut bahwa pernyataan Baim lebih bersifat candaan atau hiperbola: “Bayarannya masih masuk akal,” ujarnya.
Asri menambahkan bahwa yang paling penting baginya adalah kesempatan untuk terus berkarya. Di usianya yang kini 46 tahun, ia menyatakan rasa syukur karena masih dipercaya untuk tampil dalam proyek film. Baginya, uang memang penting, tetapi nilai seni dan dedikasi di dunia hiburan sama bernilainya.
Implikasi Pajak
Karena pengakuan publik tentang honor “fantastis” itu, otoritas pajak melihat ada potensi kewajiban pajak yang harus diklarifikasi. Ketika petugas pajak mendatangi Asri dan mengirim “surat cinta” terkait pembayaran pajak, hal itu menandakan bahwa pihak fiskus menganggap penghasilan tersebut cukup signifikan untuk ditindaklanjuti.
Namun demikian, Asri memberikan sinyal bahwa meski klaim Rp 7 miliar beredar luas, jumlah tersebut bukanlah pendapatan nyata yang dia dapatkan. Menurut laporan Jawa Pos, Asri menyatakan bahwa angka itu hanyalah hasil pernyataan Baim yang “lumayan dilebih-lebihkan.”
Reaksi Publik dan Netizen
Berita bahwa Asri Welas “dibayar 7 miliar untuk dua adegan” cepat viral dan memicu reaksi di media sosial. Banyak netizen yang terkejut dan mempertanyakan rasio bayaran terhadap durasi adegan, sementara sebagian lain melihatnya sebagai pemasaran hype dari pihak film.
Sementara itu, segmen publik yang lebih kritis menyoroti aspek pajak: jika benar ada pembayaran sebesar itu, maka kewajiban perpajakan tentu menjadi sangat besar. Namun Asri yang meredam kontroversi dengan menjelaskan bahwa nominal tersebut tidak benar-benar dia terima sepenuhnya, membuat sejumlah pengamat menduga bahwa respons otoritas pajak bersifat preventif.
Perspektif Industri Hiburan
Kisah ini menimbulkan refleksi lebih luas tentang dunia perfilman Indonesia dan dinamika bayaran selebriti senior. Asri Welas adalah figur yang sudah lama berkarya, terutama di ranah komedi, dan memiliki karier yang stabil. Dalam konteks Sukma, keterlibatannya cukup strategis: nama besar seperti Asri diyakini bisa menambah nilai proyek.
Namun jika klaim honor sedemikian tinggi benar, itu berarti ada dorongan besar dari Baim Wong sebagai produser untuk mendorong ekspektasi pasar, sekaligus menarik perhatian publik terhadap film tersebut. Kalimat Baim “Mahal tapi emang top” mencerminkan nilai jual Asri sebagai aktris senior sekaligus ikon komedi.
Tetapi, dari sisi produksi film, angka bayar segitu juga menjadi beban. Baim sendiri pernah mengaku bahwa negosiasi sangat panjang sebelum akhirnya menyepakati nominal Rp 7 miliar.
Risiko Pajak dan Citra Publik
Kasus Asri versus pajak memberikan pelajaran penting bagi selebriti dan pelaku industri kreatif: eksposur media dan konten viral bisa memicu audit atau penagihan pajak, terutama jika berkaitan dengan pendapatan besar.
Selain itu, bagi Asri Welas, kejadian ini juga membawa risiko reputasi. Meski dia menjelaskan angka itu tidak benar-benar dia terima penuh, sebagian publik bisa tetap melihat bahwa dia “dibayar mahal”, yang pada akhirnya menimbulkan persepsi berlebihan tentang pendapatan selebriti.
Di sisi lain, kewajiban perpajakan menjadi sorotan. Jika otoritas pajak benar mendekati wajib pajak berdasarkan informasi publik (seperti pernyataan viral), hal itu bisa menunjukkan bahwa pajak di Indonesia semakin aktif melakukan pemantauan terhadap penghasilan figur publik. Ini bisa jadi pertanda positif dari segi penegakan wajib pajak, tapi juga menimbulkan pertanyaan soal batasan antara “public figure” sebagai target pajak dan privasi selebriti.
- Asri Welas mengaku didatangi petugas pajak setelah pernyataan Baim Wong soal bayaran Rp 7 miliar menjadi viral.
- Namun, Asri membantah bahwa dia benar-benar menerima jumlah tersebut secara penuh dan menyebut bahwa nominalnya “masuk akal”.
- Permintaan pajak dari otoritas menunjukkan bahwa klaim publik semacam ini bisa memicu tinjauan fiskal serius.
- Di balik kontroversi, Asri tetap menegaskan dedikasinya untuk berkarya, terutama di dunia komedi yang telah membesarkan namanya.