
🌋 Pasar Kripto Merah Merona: Kenapa Market Crypto Crash Hari Ini?
Hari Jumat ini menjadi hari yang berat bagi para investor dan trader aset digital di seluruh dunia. Pasar kripto tiba-tiba “darah” di mana-mana — Bitcoin (BTC) anjlok hampir 10%, Ethereum (ETH) terperosok lebih dalam, dan altcoin lain pun ikut tergulung arus penurunan besar-besaran.
Total kapitalisasi pasar kripto global bahkan menyusut hampir $280 miliar hanya dalam satu hari.
Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa market crypto mendadak crash begitu dalam?
💥 Pemicu Utama: Ancaman Tarif Besar dari Donald Trump
Penyebab utama kepanikan ini datang dari pernyataan mengejutkan Presiden AS, Donald Trump, yang mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif impor hingga 100% terhadap produk-produk asal Tiongkok.
Dalam posting-nya di media sosial Truth Social, Trump menulis bahwa Amerika Serikat tengah menghitung kebijakan “kenaikan besar-besaran tarif” terhadap berbagai barang Tiongkok mulai 1 November mendatang.
Ia menyebut Tiongkok sebagai “musuh” ekonomi Amerika dan menuduh Beijing berupaya mendominasi pasar global melalui kebijakan ekspor logam tanah jarang yang dikontrol secara ketat. Trump juga menegaskan bahwa langkah-langkah balasan tambahan sedang dipertimbangkan — mengisyaratkan potensi perang dagang yang lebih dalam antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut.

📉 Dampak Langsung ke Pasar Kripto
Begitu kabar ini tersebar, reaksi pasar kripto langsung meledak negatif.
Investor dan trader bergegas keluar dari posisi mereka, memicu aksi jual besar-besaran di seluruh bursa.
- Bitcoin (BTC) turun lebih dari 10%, sempat jatuh di bawah level $108.000.
- Ethereum (ETH) ikut terjun sekitar 18%, kini berada di kisaran $3.540.
- XRP bahkan ambruk 32% menjadi sekitar $1,87.
- Solana (SOL) juga terkena dampak dengan penurunan 20% ke level $174.
Tak berhenti di situ, kategori koin meme — yang biasanya digerakkan oleh tren komunitas seperti Dogecoin dan Pepe — ikut tumbang hingga 35%.
Sektor AI (Artificial Intelligence) yang sebelumnya naik daun juga tak luput dari guncangan, turun sekitar 30%.

⚙️ Efek Domino: Likuidasi Massal dan Gangguan Platform
Gelombang kepanikan ini menimbulkan likuidasi besar-besaran di berbagai platform trading.
Data dari Coinglass menunjukkan jumlah posisi long (beli) yang dilikuidasi melonjak tajam, bahkan sempat membuat platform data itu mengalami gangguan teknis karena lonjakan aktivitas.
Menurut pengamat on-chain, sebelum penurunan ini terjadi, salah satu dompet Bitcoin OG (old generation) tercatat membuka posisi jual senilai $1,1 miliar pada BTC dan ETH. Dari posisi tersebut, dompet itu disebut sudah mencatat keuntungan belum terealisasi sekitar $27 juta.
Langkah besar ini diduga ikut mempercepat kejatuhan harga di tengah pasar yang sudah rapuh akibat sentimen global.
📊 Bukan Hanya Kripto, Saham Juga Ikut Terpukul
Menariknya, fenomena ini bukan hanya terjadi di pasar kripto.
Aset berisiko lain seperti saham Amerika juga ikut mengalami koreksi tajam setelah pengumuman tarif Trump.
- S&P 500 turun sekitar 2,7% atau 182 poin.
- Dow Jones merosot 878 poin, atau sekitar 1,9%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investor global sedang berada dalam mode “risk-off” — yaitu situasi di mana mereka menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti emas, dolar AS, atau obligasi pemerintah.
📆 Bukan Pertama Kalinya Trump Bikin Pasar Guncang
Kalau kamu merasa déjà vu, kamu tidak salah.
Ini bukan kali pertama Trump effect membuat pasar kripto terguncang.
- Pada bulan April 2025, ancaman tarif di momen “Tarif Hari Pembebasan” juga membuat harga Bitcoin dan altcoin sempat anjlok.
- Lalu, pada Agustus 2025, ketika AS menerapkan tarif timbal balik terhadap sejumlah mitra dagang, pasar kripto kembali tergelincir tajam.
Artinya, setiap kali Trump membuka wacana perang dagang, sentimen investor langsung berubah drastis — terutama di sektor-sektor yang dianggap “berisiko tinggi” seperti kripto.
📉 Sentimen Pasar Berubah Cepat
Sebelum pengumuman tarif ini, pasar kripto sebenarnya sedang dalam tren positif.
Sejak awal Oktober, Bitcoin dan altcoin menunjukkan momentum pemulihan yang kuat, bahkan banyak analis memperkirakan BTC bisa menembus level $120.000 dalam waktu dekat.
Namun, kabar dari Trump langsung memutus euforia itu dalam sekejap.
Investor yang semula optimistis kini menjadi waspada, karena ketegangan perdagangan antara dua negara raksasa dunia bisa memengaruhi rantai pasok global, inflasi, hingga likuiditas pasar keuangan.
Dan ketika risiko ekonomi meningkat, investor biasanya menjual aset berisiko terlebih dahulu — termasuk kripto.
💬 Apa Kata Analis?
Beberapa analis melihat penurunan ini sebagai koreksi jangka pendek akibat kepanikan mendadak.
Namun, mereka juga memperingatkan bahwa jika perang dagang benar-benar meningkat, efeknya bisa lebih panjang dan dalam.
Menurut analis dari Lookonchain, pasar kripto sangat sensitif terhadap berita makro karena masih dianggap sebagai aset spekulatif.
Kenaikan tarif impor bisa memicu inflasi, yang pada gilirannya membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama — kondisi yang tidak bersahabat bagi aset digital.
Di sisi lain, beberapa trader optimis justru melihat penurunan ini sebagai peluang beli (buy the dip).
Mereka berargumen bahwa fundamental Bitcoin masih kuat, dan volatilitas ekstrem sudah menjadi “makanan sehari-hari” di dunia kripto.
🔮 Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?
Ke depan, semua mata akan tertuju pada bagaimana Tiongkok merespons kebijakan tarif Trump.
Jika Beijing membalas dengan kebijakan serupa, maka ketegangan ekonomi global bisa semakin meningkat — dan pasar kripto mungkin akan tetap berada di bawah tekanan.
Namun, jika ada tanda-tanda negosiasi atau pelunakan kebijakan, pasar berpotensi memantul kembali dengan cepat.
Satu hal yang pasti: volatilitas akan tetap tinggi.
Investor disarankan untuk tetap waspada, mengatur risiko, dan tidak gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi.